Sabtu, 26 Mei 2012

FENOMENA PUISI ARAB DARI SEGI USLUB, MAKNA, DAN IMAJINASI


FENOMENA PUISI ARAB
DARI SEGI
USLUB, MAKNA, DAN IMAJINASI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Puisi arab atau syi’ir arab adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan dan imajinasi yang indah.
Sejarah kesusastraan telah mengungkapkan bahwasanya bangsa arab adalah sebua bangsa yang sangat gemar mengungkapkan sesuatu dengan syi’ir/ puisi, hal ini karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka serta bahasa mereka yang puitis dan lisan mereka yang fasih.
Fenomena puisi arab bila ditinjau dari segi uslub, makna dan imajinasinya maka kita akan menemukan berbagai macam jenis puisi arab, yaitu pertama puisi arab pada masa Multazim/ Tradisional yang terikan dengan wazan dan qafiyah, kedua puisi arab Mursal/ Muthlaq yakni puisi yang hanya terikat dengan satuan irama dan taf’ilah, tetapi tidak terikat dengan aturan wazan dan qafiyah, dan  ketiga puisi arab Mantsur/ Puisi bebas yaitu puisi yang sama sekali tidak terika dengan aturan wazan dan qafiyah.
Pada pembahasan berikut ini, kami akan memaparkan sedikit tentang fenomena puisi arab bila ditinjau dari segi uslub, makna, dan imajinasinya. 
1.2  Rumusan Masalah
a.       Bagaimana Fenomena Puisi Arab?
b.      Apa Macam-macam Puisi Arab?
c.       Apa Contoh Puisi Arab Melalui Uslub, Makna, dan Khayal/ imajinasi?

1.3  Tujuan
a.       Mengetahui Fenomena Puisi Arab?
b.      Mengetahui Macam-macam Puisi Arab?
c.       Mengetahui Contoh Puisi Arab Melalui Uslub, Makna, dan Khayal/ imajinasi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fenomena Puisi Arab
Sejarah kesusastraan Arab telah mengungkapkan bahwa kebiasaan bangsa arab pada umumnya adalah senang mengumbar syi’ir, hal ini mereka anggap suatu kebiasaan yang bersifat tradisional karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka serta bahasa mereka yang puitis serta lisan mereka yang fasih merupakan factor kuat untuk menolong mereka mereka dalam menggubah syi’ir.[1]
Puisi/ syi’ir Arab tidak timbul sekaligus dalam bentuk yang sempurna, tetapi sedikit demi sedikit berkembang menuju kesempurnaan , yaitu mulai dari bentuk ungkapan kata yang besar (Mursal) menuju sajak dan dari sajak menuju syi’ir yang berbahar Ramal, kemudian menuju syi’ir yang berbahar Rajaz. Mulai fase inilah syi’ir/ puisi Arab dikatakan sempurna, dan dalam tempo yang cukup lama syi’ir tersebut berkembang menjadi susunan kasidah yang terikat dengan aturan wazan dan qafiyah.[2]
Berikut ini beberapa masa sejarah perkembangan puisi Arab yang sangat fenomena:
A.    Zaman Jahiliyah
Pada zaman ini puisi berkisar pada persoalan-persoalan: Al-Madh (pujian), Al-Ghazal (rayuan), Al-Hijaa’ (ejekan), Al-Hikam wal Amtsaal (perumpamaan), Al-Hamaasah (semangat), Ar-Ritsaa’(bela sungkawa), Al-Fakhr (bangga), Al-Washaf (mensifati), dan Al-I’tidzar (berdalih).
B.     Zaman Permulaan Islam dan Pemerintahan Bani Umaiyah
Pada zaman ini puisi Arab digunakan pada:
a.       Penyebaran ‘Aqidah Islam, hokum-hukumnya, petunjuk-petunjuknya, dan berisi anjuran untuk mengikuti ajaran-ajarannya, terutama dimasa Nabi Muhammad dan Khulafaur Roshidin.
b.      Ajakan untuk berperang dan mensifati kejadian peperangan tersebut, terutama pada peperangan Nabi dan pengepungan beberapa kota serta penaklukannya.
c.       Al-Hijaa’ (ejekan), terutama untuk mempertahankan Islam, maka penyair-penyair Islam mengejek kepada orang-orang Musyrik. Seperti halnya penyair Islam Hassaan bin Tsabit mengejek kepada bangsa Quraisy dan keluarga Nabi sendiri dari Bani Abdi Manaf, karena mereka tidak mau mengikuti ajakan Nabi Muhammad demikian juga penyair-penyair yang lain seperti Al-Huthaiah, Jariir, Al-Farasdak dan Akhtal, mereka selalu menggubah syair yang tujuannya mengejek orang-orang Arab yang kafir.
d.      Al-Madh (pujian), terutama untuk mengokohkan dasar-dasar pemerintahan Islam dan mengagungkan kedudukan para khalifah serta para pemimpin pemerintahan mereka. 
C.    Zaman Pemerintahan Abbasyiah
Pada masa Abbasiyah syi’ir masih sangat popular, mereka menggunakan syiir untuk mengungkapkan keindahan, kesenian, lelucon, jenaka, senda gurau, dan bersenang-senang untuk memuaskan hawa nafsu, dan masih berkisar juga untuk tujuan rayuan dan ejekan.
Pada zaman inilah terciptanya perpaduan antara puisi Arab klasik dan puisi Arab modern, sehingga makna yang terkandung sangat halus dan khayalnya juga sangat indah.
D.    Masa Pemerintahan Turki (Th. 656 H-1220 H)
Setelah menginjak masa ini, syi’ir Arab tidak mengalami kemajuan, karena disebabkan para penguasa tidak mempunyai bakat dalam bersyair, namun sebagian penyair masih bersyair guna untuk merayu dan membujuk para raja serta untuk kebutuhan hiburan semata.
E.     Masa modern (sejak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya)
Pada zaman modern para penyair menggunakan syi’ir pada tema persoalan-persoalan yang aktuil, nasionalisme, humanism, patriotism, dan mereka juga menggunakan syi’ir dalam tema pujian, membangkitkan semangat, dan kebanggaan. Tema ejekan, bela sungkawa, dan rayuan mulai jarang digunakan.
2.2 Macam-macam Puisi Arab
Jika puisi Arab ditinjau dari segi bentuk dan isinya, maka terbagi menjadi bermacam-macam, antara lain:
A.    Dari segi bentuknya:
a.       Puisi Multazim/ Tradisional
Puisi Tradisional adalah puisi yang masih terikat dengan aturan wazan qafiyah.
Seperti pada syi’ir Kasidah Imrul Qais:
قضانبك من ذكرى حبيب رمنزل
بسقط اللوى بين الدخول فحومل

b.      Puisi Mursal/ Mutlak
Puisi Mursal adalah puisi yang terikat dengan satuan irama atau ta’filah, dan tidak terikat oleh wazan dan qafiyah tertentu.
c.       Puisi Mantsur/ bebas
Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh aturan wazan dan qafiah yang ada, tetapi masih terikat oleh satuan irama dan wazan khusus yang mirip dengan bentuk prosa yang bernilai sastra tinggi.
B.     Dari Segi Maknanya:
a.       Puisi Qashashi/ Epic Poetry
Yaitu puisi yang materinya menyebutkan tentang beberapa kejadian dan peristiwa yang ada dalam satu bentuk kisah, dengan disertai pembukuannya, pandangan-pandangan atau arahnya, dan diceritakan pula pelaku-pelakunya.
Contohnya seperti kisah “Ilyadzah Humirus bagi bangsa Yunani”
الياذة هو ميروس عند اليونا ن
b.      Puisi Tamsili/ Dramatic Poetry
Puisi Tamsili adalah puisi yang isinya melukiskan suatu kejadian atau kisah, dengan mengemukakan padangan-pandangan dan peranan-peranan yang dilakukan oleh para pelakunya, serta ditamppilkan didepan penonton. Biasanya dilakukan dengan cara bercakap-cakap atau berdialog antara para pelaku tersebut.
d.      Puisi Ghina-i/ Lirik Poetry
Yaitu penyairnya mensifati apa yang sedang terasa didalam hati, sanubarinya, dan apa yang terasa didalam jiwanya, baik gejolak tersebut berupa kesenangan, kebencian, kegembiraan, kesusahan, kemarahan maupun kerelaan
2.3 Contoh Puisi Arab Melalui Uslub, Makna, dan Khayal/ imajinasi
Dibawah ini merupakan beberapa contoh puisi Arab yang terkenal pada masanya. Pada bagian ini juga akan meninjau puisi Arab dari segi Uslub, Makna, dan Khayal/ makna.
A.    Puisi ciptaan Amru’ul Qais (penyair pada masa Jahiliyah)
وليل كموج البحر أرخى سدوله على بانواع الهموم ليبتلي
فقلت له لما تمطى بجوزه وأردف أعجازا وناء بككل
ألا أيها الليل الطويل ألا نجلى بصبح وما الاصباح منك بأمثل

            Artinya:  Beberapa malam bagaikan ombak lautan, menutup kelambunya yang pekat kepadaku secara berurutan dengan berbagai kesusahan dan mengujiku. Maka aku bertanya kepadanya, mengapa engkau memanjangkan pertengahan malam ini? Dan akupun mengikutimu sampai akhir malam untuk bangun dipagi hari. Perhatikan wahai malam yang panjang, tidakkah engkau menjadi terang untuk meninggalkan pagi hari, dan tidaklah terang dipagi hari melainkan menjadi hina di sisimu.
a.       Dari segi uslub
Dari segi uslub puisi Amrul Qais mencakup unsur tasybih tamsil di dalamnya, yaitu tasybih yang wajah syabahnya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal. Beliau menyerupakan malam dengan ombak laut, dan malam-malam itu menutupkan kelambunya desertai berbagai kesusahan dan penderitaan untuk menguji kesabaran dan kekuatan mentalnya.
b.      Dari segi makna
Sungguh malam yang gelap gulita telah mengelilingi aku kemudian aku menyempurnakan tutupan sehingga aku tidak melihat sedikitpun. Seoalah-olah terputusnya ombak laut yang besar lagi menakutkan. Ketika aku menutup penglihatan kedua mataku, maka aku merasakan kebimbangan dari berbagai arah tetapi aku harus sadar hal itu manandakan aku berlaku sabar.
c.       Dari segi khayal
Bahwasanya Amrul Qais mengajak pembaca untuk menyadari bahwasanya hidup ini selalu diberi ujian, dan solusi dalam menghadapinya adalah sabar.
B.     Puisi ciptaan Ka’ab bin Zuhaer (penyair pada masa permulaam Islam)
إن الرسولله يستضاء به مهند من سيوف الله مسلول
في عصبة من قريش قال قائلهم ببطن مكة لما أسلموا زولوا
زالوا فما زال أنكاس ولاكشف عند اللقاء ولاميل معازل
Artinya: sesungguhnya Rasulullah saw bagaikan pedang yang dibuat dari negeri India yang dapat memberikan cahaya di sekelilingnya, sehingga beliau diberi gelar dengan pedang yang dihunus. Di dalam suku Quraisy seorang ditanya kepada mereka, kenapa mereka masuk Islam di jantung kota Makkah, sedangkan mereka tidak teguh menjalankan agama Islam. Orang-orang  penakut  yang lari dari medan perang, dan mereka takut bertemu dengan musuh.
a.       Dari segi uslub
Pada syi’ir berikut mengandung uslub-uslub agama, dan bila ditinjau dari segi uslub balaghoh makan di puisi ingi mengandung uslub isti’arah yaitu pada kata  إن الرسولله يستضاء به .
b.      Dari segi makna
Pada puisi ini terdapat makna keagamaan, yaitu anjuran untuk bertaqwa kepada Allah SWT.
c.       Dari segi imajinasi/ khayal
Dari segi imajinasi penyair bermaksud mendedikasikan Rasulullah sebagai seseorang yang pemberani dalam menumpas kebatilan tanpa kenal kompromi, mengingat pada waktu itu terjadi masa transisi dari masa Jahiliyah dan Islam.
C.    Puisi ciptaan Abu Tamam (penyair pada masa Abbasiyah)
السيف أصدق أنباء من الكتب في حده الحد بين الجد واللعب
بيض الصفائح لاسود الصحائف في متونهن جلاء الشك والريب
والعلم في شهب لامعة بين الخمسين لافي السبعة الشه

Artinya: pedang itu lebih benar beritanya daripada buku-buku, pada bagian batas yang diasah antara pemisah yang sungguh-sungguh dan main-main. Putihnya besi pedang bukanlah hitam kertas yang ditulis dalam satu keperluan atau perjanjian, pada tumpulnya pedang yang dapat mengungkapkan keraguan dan kebimbangan. Dan mengetahui dalam kilatan tombak yang berkilau, di sekeliling lima puluh tentara bukan pada tujuh planet yang bersinar.
a.       Dari segi uslub
Dipuisi Abu Tamam ini terdapat unsur-unsur tasybih, isti’arah, dan juga banyak terdapat muhhasinat lafdziyahseperti tibaq dan jinas.
b.      Dari segi makna
Bahwasanya sesuatu tidaklah dilihat dari luarnya saja melainkan dilihat dari dalamnya, seperti seseorang tidak dilihat dari omongannya saja akan tetapi dari tindakan dan perbuatan.
c.       Dari segi imajinasi
Bahwasanya penyair mengungkapkan bahwa pedang lebih benar dari pada buku, karena pedang bila tajam akan terlihat ketajamannya dari kilatan pedang tersebut, sedangkan buku belum tentu mengalami kebenaran, karena buku merupakan ide pikiran seseorang, bila pikirannya salah maka akan menyesatkan pembacanya.
D.    Puisi ciptaan Ahmad Syauqi (penyair pada masa modern)

قم للمعلم وفه التبجيل كاد المعلم أن يكون رسولا
أعلمت أشرف أو أجل من الذى يبني وينشى أنفاسا و عقولا
سبحانك اللهم خير معلم علمت بالقلم القرون الاولى 
Artinya: bangunlah untuk memberi penghormatan kepada guru, karena hampir guru itu menjadi rasul. Beliaulah yang mengajari aku sehingga aku menjadi orang yang terhormat agung. Siapakah yang membangun dan mendirikan jiwa dan akal? Sungguh suci engkau, ya Tuhan berilah kebaikan kepada guru yang telah mengajari aku dengan pena yang pertama kali.
a.       Dari segi uslub
Jika diperhatikan puisi Syauqi diberbagai literatur, maka selalu menggunakan satu wazan dan berqofiyah, seperti pada petikan syi’ir diatas yang terdapat pada syatar kedua selalu menggunakan qafiyah pada ujungnya.
b.      Dari segi makna
Pada syiir berikut ini penyair mengungkapkan akan pentingnya seorang guru, karena orang besar sekalipun tidak akan berjaya tanpa ada didikan seorang guru.
c.       Dari degi imajinasi
Penyair bermaksud untuk menyampaikan kepada pembaca bahwa kita wajib menghormati guru sebagaimana kita menaruh penghormatan kepada nabi Muhammad saw, menurut penyair seorang guru memiliki derajat yang sama dengan para rasul, kalau rasul menyampaikan amanat kepada umatnya maka seorang guru ikut mencerdaskan anak-anak bangsa.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Sejarah kesusastraan Arab telah mengungkapkan bahwa kebiasaan bangsa arab pada umumnya adalah senang mengumbar syi’ir, hal ini mereka anggap suatu kebiasaan yang bersifat tradisional karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka serta bahasa mereka yang puitis serta lisan mereka yang fasih merupakan factor kuat untuk menolong mereka mereka dalam menggubah syi’ir.
Puisi/ syi’ir Arab tidak timbul sekaligus dalam bentuk yang sempurna, tetapi sedikit demi sedikit berkembang menuju kesempurnaan , yaitu mulai dari bentuk ungkapan kata yang besar (Mursal) menuju sajak dan dari sajak menuju syi’ir yang berbahar Ramal, kemudian menuju syi’ir yang berbahar Rajaz. Mulai fase inilah syi’ir/ puisi Arab dikatakan sempurna, dan dalam tempo yang cukup lama syi’ir tersebut berkembang menjadi susunan kasidah yang terikat dengan aturan wazan dan qafiyah.
Adapun macam-macam puisi arab adalah puisi tradisional, mutlak, dan bebas. Dan terdapat uslub, imajinasi dan makna yang berbeda-beda. Dan puisi Arab mempunyai periode-periode yang menyebabkannya menjadi suatu fenomena di negeri Arab. Masa-masa populernya puisi/syi’ir adalah pada  zaman:
a.      Zaman Jahiliyah
Pada zaman ini puisi berkisar pada persoalan-persoalan: Al-Madh (pujian), Al-Ghazal (rayuan), Al-Hijaa’ (ejekan), Al-Hikam wal Amtsaal (perumpamaan), Al-Hamaasah (semangat), Ar-Ritsaa’(bela sungkawa), Al-Fakhr (bangga), Al-Washaf (mensifati), dan Al-I’tidzar (berdalih).
b.      Zaman Permulaan Islam dan Pemerintahan Bani Umaiyah
Pada zaman ini puisi Arab digunakan pada Penyebaran ‘Aqidah Islam, hokum-hukumnya, petunjuk-petunjuknya, dan berisi anjuran untuk mengikuti ajaran-ajarannya, terutama dimasa Nabi Muhammad dan Khulafaur Roshidin. Ajakan untuk berperang dan mensifati kejadian peperangan tersebut, terutama pada peperangan Nabi dan pengepungan beberapa kota serta penaklukannya. Al-Hijaa’ (ejekan), terutama untuk mempertahankan Islam, maka penyair-penyair Islam mengejek kepada orang-orang Musyrik. Seperti halnya penyair Islam Hassaan bin Tsabit mengejek kepada bangsa Quraisy dan keluarga Nabi sendiri dari Bani Abdi Manaf, karena mereka tidak mau mengikuti ajakan Nabi Muhammad demikian juga penyair-penyair yang lain seperti Al-Huthaiah, Jariir, Al-Farasdak dan Akhtal, mereka selalu menggubah syair yang tujuannya mengejek orang-orang Arab yang kafir. Al-Madh (pujian), terutama untuk mengokohkan dasar-dasar pemerintahan Islam dan mengagungkan kedudukan para khalifah serta para pemimpin pemerintahan mereka.
c.       Zaman Pemerintahan Abbasyiah
Pada masa Abbasiyah syi’ir masih sangat popular, mereka menggunakan syiir untuk mengungkapkan keindahan, kesenian, lelucon, jenaka, senda gurau, dan bersenang-senang untuk memuaskan hawa nafsu, dan masih berkisar juga untuk tujuan rayuan dan ejekan. Pada zaman inilah terciptanya perpaduan antara puisi Arab klasik dan puisi Arab modern, sehingga makna yang terkandung sangat halus dan khayalnya juga sangat indah.
d.      Masa Pemerintahan Turki (Th. 656 H-1220 H)
Setelah menginjak masa ini, syi’ir Arab tidak mengalami kemajuan, karena disebabkan para penguasa tidak mempunyai bakat dalam bersyair, namun sebagian penyair masih bersyair guna untuk merayu dan membujuk para raja serta untuk kebutuhan hiburan semata.
e.       Masa modern (sejak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya)
Pada zaman modern para penyair menggunakan syi’ir pada tema persoalan-persoalan yang aktuil, nasionalisme, humanism, patriotism, dan mereka juga menggunakan syi’ir dalam tema pujian, membangkitkan semangat, dan kebanggaan. Tema ejekan, bela sungkawa, dan rayuan mulai jarang digunakan.

 DAFTAR PUSTAKA
Hamid, Mas’an. 1995. Ilmu Arudl dan Qawafi. Surabaya: Al-Ikhlas.
Al-Shobirin, Annas, 09 Mei 2011, Sastra Arab Luar Biasa, http://elsobirin88.multiply.com/journal/item/61?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem, di akses 04 Januari 2012.




[1] Sayyid Ahmad Al-Haasymy, Jawaahirul-Adab, Juz II, Daarul-Fikri, cet. Ke-26, Mesir, 1965, Hal. 24
[2] Ahmad Hasan Az-Zayyaat, Op. cet, Hal. 29.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar