Minggu, 20 Mei 2012

LAHJAT


LAHJAT

1.1  Latar Belakang
Bahwasanya Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam bentuk fisik, warna kulit, bahasa dan budaya sehingga dengan ini terjadilah masyarakat multicultural[1]. Dengan ini terciptalah perbedaan-perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain. Seperti perbedaan bahasa maupun dialek. Untuk mempelajari bentuk-bentuk perbedaan dalam bahasa maka lahirnya ilmu sosiolingistik. Sosiolinguistik berasal dari dua kata yaitu sosio dan linguistik  
Sosio adalah  kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat, sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.  Abdul Chaer (2004:2).
Maka oleh karena itu terjadilah variasi bahasa yang berbeda dari satu tempat wilayah  atau area tertentu . Oleh karena itu kami disini akan memaparkan sedikit makalah kami yang berjudul Lahjat, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan dialek

1.2   Tujuan Makalah
a.       Untuk mengetahui pengertian Lahjat
b.      Untuk mengetahui Asal-usul Perkembangan  Lahjat
c.       Untuk mengetahui Sebab-sebab Perbedaan  Lahjat
d.      Untuk mengetahui Macam-macam lahjat
e.       Untuk mengetahui beberapa contoh Perbedaan Lahjat Pada Bahasa Arab

BAB II
PEMBAHASAN
2.2 Pengertian Lahjat
            Lahjat adalah variasi bahasa berdasarkan pemakainya, dengan kata lain lahjat(dialek) merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh pemakainya, yang pada dasarnya tergantung pada siapa pemakainya itu; darimana pemakainya berasal, baik secara geografis dalam hal dialeg regional, ataupun secara social dalam kaitannya dengan dialek social[2]. Variasi yang dimaksud disini adalah berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda.
Menurut Weijen, dkk yang dikutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983), dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh satu masyarakat untuk membedakan dari masyarakat lain. Istilah dialeg atau lahjat(dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani disebut dialektos yang berarti varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Pemberian dialek berdasarkan factor geografis dan social serta latar belakang pendidikan.
Dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan. Jika pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka disebut aksen. Dapat disimpulkan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda dari sekelompok penutur/ pemakai yang berbeda dengan kelompok  penutur lain berdasarkan atas letak geografis, faktor sosial, kurun waktu tertentu dan lain-lain. Ilmu yang mempelajari dialek disebut dialektologi yaitu  bidang studi yang bekerja dalam memetakan batas dialek dari suatu bahasa.

2.2 Asal Usul dan Perkembangan Lahjat
            Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983), pertumbuhan dan perkembangan dialek (Lahjat)  sangat ditentukan oleh faktor intralinguistik dan faktor ekstralinguistik[3]. Faktor intralingusitik, yaitu faktor bahasa itu sendiri, faktor ekstralinguistik, seperti faktor geografis, budaya, aktivitas ekonomi, politik, kelas social dan sebagainya.
Menurut Guiraud (1970: 26) terjadinya ragam dialek (Lahjat) itu disebabkan oleh adanya hubungan dan keunggulan bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan penduduk, penyerbuan atau penjajahan. Hal yang tidak boleh dilupakan ialah peranan dialek atau bahasa yang bertetangga di dalam proses terjadinya suatu dialek itu. Dari dialek dan bahasa yang bertetangga itu, masuklah anasir kosakata, struktur, dan cara pengucapan atau lafal. Setelah itu kemudian ada di antara dialek tersebut yang diangkat menjadi bahasa baku, maka peranan bahasa baku itu pun tidak boleh dilupakan. Sementara pada gilirannya, bahasa baku tetap terkena pengaruhnya baik dari dialeknya maupun dari bahasa tetangganya.
Selanjutnya, Lahjat (dialek) berkembang menuju dua arah, yaitu perkembangan membaik dan perkembangan memburuk. Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983), Bahasa Sunda di kota Bandung dijadikan dasar bahasa sekolah yang kemudian dianggap sebagai bahasa Sunda baku. Hal tersebut didasarkan kepada faktor obyektif dan subyektif. Secara obyektif memang harus diakui bahwa Bahasa Sunda kota Bandung memberikan kemungkinan lebih besar untuk dijadikan bahasa sekolah dan kemudian sebagai bahasa Sunda Baku. Hal ini dialek bahasa Sunda mengalami perkembangan membaik. Contoh perkembangan dialek yang memburuk sebagai berikut. Pada lima tahun yang lalu, penduduk kampung Legok (Indramayu) masih berbicara Bahasa Sunda. Sekarang penduduk kampung itu hanya dapat mempergunakan Bahasa Jawa – Cirebon. Dengan kata lain, bahasa Sunda di kampung itu sekarang telah lenyap, dan kelenyapan itu merupakan keadaan yang paling buruk dari perkembangan memburuk suatu bahasa atau dialek.

2.3 Sebab-sebab Perbedaan Lahjat
            Pada tiap-tiap daerah memiliki dialek (lahjat) yang berbeda-beda, meskipun rumpun bahasa yang digunakan adalah sama. Dialek bahasa jawa Surakarta berbeda dengan bahasa Jawa yang ada di Jawa Timur dan daerah Purwokerto, dan sebagainya.
            Perbedaan Dialek pada garis besarnya dapat dibagi tiga macam, ketiga macam perbedaan itu ialah sebagai berikut:
a.       Perbedaan Fonetik[4]
Perbedaan ini berada di bidang fonologi[5]. Biasanya si pemakai dialek atau bahasa yang bersangkutan tidak menyadaari adanya perbedaan tersebut. Sebagai contoh dapat dikemukakan carema dengan cereme yaitu buah atau pohon cèrme.[6]

b.      Perbedaan Morfologi[7]
Perbedaan morfologis merujuk kepada sistem tata bahasa yang bersangkutan . Hal tersesebut disebabkan oleh frekuensi morfem-morfem yang berbeda, oleh kegunaannya yang berkerabat, oleh wujud fonestisnya, oleh daya rasanya dan oleh sejumlah factor lainnya lagi. Untuk contohnya dapat dilihat pada tabel Contoh Perbedaan Lahjat (dialek) Pada Bahasa Arab.

c.       Perbedaan Semantik
Perbedaan semantik merujuk kepada terciptanya kata-kata baru, berdasarkan perubahan fonologi dan geseran bentuk. Peristiwa tersebut biasanya terjadi geseran makna kata. Geseran tersebut bertalian dengan dua corak makna, yaitu[8]:
1)      Pemberian nama yang berbeda atau lambang yang sama dibeberapa tempat yang berbeda, seperti Balimbing dan Calincing buat Belimbing, pada bahasa Sunda, geseran corak ini dikenal dengan istilah Sinonim.
2)      Pemberian nama sama untuk hal yang berbeda dibeberapa tempat yang berdeda. Misalnya meri untuk anak itik dan itik pada bahasa Sunda geseran corak ini dikenal dengan istilah Homonim[9].
2.4 Macam-Macam Lahjat
            Dilihat dari bentuknya lahjat (dialek) dibagi menjadi tiga yaitu :
a.       Dialek Regional
Yaitu dialek yang ciri-cirinya dibatasi oleh tempat atau letak geografis. Sering juga disebut Dialek Area. Misalnya, lingua franca[10] bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia, tetapi setiap daerah yang ada di Negara Indonesia memiliki dialek(lahjat) masing-masing karena disebabkan oleh letak geografis dan kebudayaan yang berbeda-beda, ketika mereka berbahasa Indonesia mereka memiliki dialek dan aksen yang unik karena terpengaruh dialek bahasa daerah mereka masing-masing, hal ini dapat kita lihat pada orang Papua, orang Kalimantan, orang Bali, orang Madura, dan lain-lain ketika mereka berbahasa atau menggunakan  bahasa Indonesia[11].

b.      Dialek Sosial
Yaitu Dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, orang di kalangan Kraton pasti memiliki dialek yang berbeda dengan orang-orang di luar kraton. Atau orang-orang yang ada di komunitas kantor pasti dialeknya berbeda dengan orang-orang yang ada di komunitas pasar. Contohnya seperti cara seorang anggota militer berbahasa Indonesia menunjukkan dialek yang berbeda dengan warga sipil. Anggota militer Nampak lebih tegas, jelas, dan lantang. Sementara anggota masyarakat sipil (non militer) Nampak menunjukkan dialek dan aksen yang lebih lembut, luwes dan lemah.

c.       Dialek Temporal
Yaitu Dialek yang berbeda dari waktu ke waktu. Dialek ini hanya berkembang pada kurun waktu tertentu dan bila sudah berganti masa maka dialek itu sudah tidak ada lagi. Hal ini bisa dilihat dari ejaan, cara penulisan dan pengucapannya. Misalnya Dialek Melayu kuno, Melayu Klasik, dan Melayu Modern, masing-masing adalah dialek temporal dari bahasa Melayu, dan lain-lain.

2.5 Contoh Perbedaan Lahjat (dialek) Pada Bahasa Arab
            Untuk contoh perbedaan lahjat (dialek) pada bahasa Arab, dapat dilihat pada lampiran 1. Pada tabel tersebut terdapat beberapa ungkapan dengan bahasa Arab Fushha dan bahasa  Arab ‘Ammiyah Mesir dan Saudi serta terjemahan dalam bahasa Indonesia[12].

Lampiran 1  Contoh Perbedaan Lahjat (dialek) Pada Bahasa Arab
Tabel 1: Perbedaan Lahjat (dialek) Pada Bahasa Arab
مَعْنَى
Arti
مَصْرِيَة
Bhs Ammiyah Mesir
سَعُوْدِيَة
Bhs Ammiyah Saudi
فُصْحى
Bhs Arab resmi
Selamat pagi
صَبَاحُ الفوْل
Shabaahul fuul
صَبَاحُ الْخَيْرِ
Shabaahul khair
صَبَاحُ الْخَيْرِ
Shabaahul khair
Selamat sore
مَسَاءُ الْخَيْرِ
Masaa ul kher
مَسَاءُ الْخَيْرِ
Masaa ul kher
مَسَاءُ الْخَيْرِ
Masaa ul khair
Selamat tidur
تَصْبَحُ عَلىَ الْخَيْرِ
Tesbah `alal kher
تَصْبَحُ عَلىَ الْخَيْرِ
Tesbah `alal kher
تَصْبَحُ عَلىَ الْخَيْرِ
Tasbahu `alal khair
Selamat ( hari-hari besar, ‘Ied, tahun baru. Ultah )
كُلُّ سَنَةٕ وَ أنْتَ طَيِّبٌ
Kullu sanah wenta thayyib
كُلُّ سَنَةٕ وَ أنْتَ طَيِّبٌ
Kullu sanah winta thayyib
كُلُّ سَنَةٕ وَ أنْتَ طَيِّبٌ
Kullu sanatin wa anta thayyib
Apa
إِيْه
hEe
شنو
Syinu
مَا
Maa
Mengapa
لِيْه
Leyh
لِيْشْ
Liysy
لِمَاذَا
Limaadza
Kapan
إِمْتَى
Imta
مَتَى/  ﺇﻤﺗﻰ
Mataa  / Imta
مَتَى
Mataa
Bagaimana
ﺇﺰﱠﻱْ
Izzay
كِيْفْ
Keyf
كَيْفَ
Kayfa
Apa Kabar?
إِزَيَّكْ
Izayyak
كَيْفْ حَالَك
Keyf haalak
كَيْفَ حَالُكَ
Kayfa haaluka
Bagaimana Kabarmu?
إِزَّيْ أخْبَارَكْ
Izzay akhbaarak
إيْشْ أخْبَارَكْ
Iysy akhbaarak
كَيْفَ أخْبَارُكَ
Kayfa akhbaaruka


BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Bahwasanya Lahjat adalah variasi bahasa berdasarkan pemakainya, dengan kata lain lahjat(dialek) merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh pemakainya, yang pada dasarnya tergantung pada siapa pemakainya itu; darimana pemakainya berasal, baik secara geografis dalam hal dialeg regional, ataupun secara social dalam kaitannya dengan dialek social. Variasi yang dimaksud disini adalah berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda. Dilihat dari bentuknya dialek dibagi tiga yaitu :
a.       Dialek Regional
Yaitu dialek yang ciri-cirinya dibatasi oleh tempat atau letak geografis. Sering juga disebut Dialek Area. Misalnya, lingua franca bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia, tetapi setiap daerah yang ada di Negara Indonesia memiliki dialek(lahjat) masing-masing karena disebabkan oleh letak geografis dan kebudayaan yang berbeda-beda, ketika mereka berbahasa Indonesia mereka memiliki dialek dan aksen yang unik karena terpengaruh dialek bahasa daerah mereka masing-masing, hal ini dapat kita lihat pada orang Papua, orang Kalimantan, orang Bali, orang Madura, dan lain-lain ketika mereka berbahasa atau menggunakan  bahasa Indonesia.

b.      Dialek Sosial
Yaitu Dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, orang di kalangan Kraton pasti memiliki dialek yang berbeda dengan orang-orang di luar kraton. Atau orang-orang yang ada di komunitas kantor pasti dialeknya berbeda dengan orang-orang yang ada di komunitas pasar. Contohnya seperti cara seorang anggota militer berbahasa Indonesia menunjukkan dialek yang berbeda dengan warga sipil. Anggota militer Nampak lebih tegas, jelas, dan lantang. Sementara anggota masyarakat sipil (non militer) Nampak menunjukkan dialek dan aksen yang lebih lembut, luwes dan lemah.

c.       Dialek Temporal
Yaitu Dialek yang berbeda dari waktu ke waktu. Dialek ini hanya berkembang pada kurun waktu tertentu dan bila sudah berganti masa maka dialek itu sudah tidak ada lagi. Hal ini bisa dilihat dari ejaan, cara penulisan dan pengucapannya. Misalnya Dialek Melayu kuno, Melayu Klasik, dan Melayu Modern, masing-masing adalah dialek temporal dari bahasa Melayu, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul, 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta; PT. Kineka Cipta
Hasan, Ruqaiya dan M.A.K Halliday, 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press.
Suprianto, 2009. Antropologi Konstektual. Jakarta; CV Mediatama.



[1] Adalah berbagai macam status sosial budaya meliputi latar belakang, tempat, agama, ras, suku, dll.
[2] Hasan Ruqaiya, Bahasa, Konteks dan Teks, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994, h. 56
[3] Suprianto, Antropologi kontekstual, Jakarta; CV. Mediatama, 2009,h.128
[4] adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia
[5] Yaitu bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi(Assautiah) bahasa secara umum. Fonolologi sama dengan Ilmu Aswat.
[6] Suprianto, Antropologi kontekstual, Jakarta; CV. Mediatama, 2009,h.129
[7] Ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata dan mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal  untuk membentuk sebuah kata, dalam bahasa Arab disebut Ilmu Nahwu.
[8] Suprianto, Antropologi kontekstual, Jakarta; CV. Mediatama, 2009,h.130
[9] kata yang sama lafal dan ejaannya dengan kata yang lain tetapi berbeda maknanya
[10] adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah "bahasa pengantar" atau "bahasa pergaulan" di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda
[11] Suprianto, Antropologi kontekstual, Jakarta; CV. Mediatama, 2009,h.136
[12] Lih, Attaysiir fii Ta’liim Al-Lugha Al-Arabiyah, Oleh: Saidna Zulfiqar bin Tahir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar