Kamis, 17 Mei 2012

Aliran Sastra di Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Karya sastra merupakan salah satu ungkapan rasa estetis dari seorang pengarang terhadap alam sekitarnya, merupakan suatau karya imajinatif dari seorang yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni. Karya sastra juga banyak memberikan gambaran kehidupan sebagai mana yang diingingkan oleh pengarangnya sekaligus menunjukkan sosok manusia sebagai insan seni yang berunsur estetis dominan. Karya sastra sebagai karya seni tidak lepas dari pengaruh aliran yang melatar belakangi munculnya karya sastra tersebut, hal ini dapat diketahui melalui ciri khas karya sastra setiap penulisnya. Menurut Korri Layun Rampan, aliran karya sastra dapat diartikan sebagai ekspresi para sastrawan yang meyakini bahwa jenis karya sastra ciptaannya tersebut merupakan karya sastra yang cocok pada zamannya.
Jika hasil karya sastra sebelumnya dapat dianggap konvensional, sastra yang mereka ciptakan selanjutnya dianggap sebagai karya sastra inkonvensional. Dengan demikian, seorang pengarang bisa dimasukkan ke dalam beberapa aliran, karena corak karyanya yang bermacam-macam. Sementara itu, sebuah novel, cerpen, puisi atau teks drama bisa dijadikan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa seorang pengarang menganut beberapa aliran.
Aliran-aliran karya sastra yang berkembang di Indonesia antara lain realisme, surrealisme, absurdisme, psikologisme, romantisme, eksistensialisme, filsafatisme, ekspresionisme, impresionisme, melankolisme, ironisme, naturalisme, determinisme, simbolisme, idealisme, heroisme, religiusme, transendatalisme, dan komedialisme. Dari berbagai aliran-aliran tersebut memiliki ciri-ciri dan penganut tersendiri. Oleh karena itu, penulis dalam makalah ini bermaksud menguraikan definisi setiap jenis aliran, ciri-ciri serta contohnya.

B.     Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis aliran karya sastra?
2. Bagaimana ciri-ciri setiap aliran karya sastra?
3. Bagaimana contoh karya sastra masing-masing aliran?

C.     Tujuan Penulisan
1. Mengetahui jenis-jenis aliran karya sastra?
2. Mengetahui ciri-ciri aliran karya sastra?
3. Mengetahui contoh karya sastra masing-masing aliran?


D.    Manfaat Penulisan
Makalah ini dapat bermanfaat untuk:
1. Rekan–rekan mahasiswa
Sebagai bahan belajar dan menambah wawasan mengenai aliran-aliran karya sastra.
2. Pembaca
Menambah pengetahuan dan wawasan.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika uraian makalah ini terdiri dari tiga bagian yaitu pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, tujuan, sistematika uraian. Kedua isi atau kajian teori dan pembahasan. Ketiga penutup yang berisi kesimpulan dan saran dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jenis-Jenis Aliran Karya Sastra
Karya sastra memiliki beberapa jenis aliran-aliran yang menunjukan ciri khas masing-masing dengan ditinjau dari hasil pemikiran pemiliknya. Aliran-aliran karya sastra antara lain :
1. Aliran Realisme
Aliran realisme ialah aliran yang ingin mengemukakan kenyataan, barang yang lahir (lawan batin) secara obyektif dimana pengaranag melukiskan dunia kenyataan dan segala-galanya digambarkan seperti apa yang tampak, tidak kurang tidak lebih. M.H. Abrams dalam kamusnya “ Glossary of Literary Terms” menyebutkan bahwa realisme digunakan dalam 2 pengertian :
a.                          Untuk mengidentifikasi gerakan sastra pada abad XIX, khususnya prosa fiksi.
b.                         Menunjukkan cara penggambaran kehidupan di dalam sastra. Fiksi realistik sering dioposisikan dengan fiksi romantic
2.       Aliran Surrealisme
Aliran surrealisme ialah aliran yang mengemukakan realitasnya (kenyataan) bercampur angan-angan. Angan-angan seorang pembuat karya sastra akan mempengaruhi bentuk dan arti karya sastra yang dibuatnya karena didalamnya terdapat pernyataan jiwa.
Surrealisme merupakan gerakan di kalangan pengarang dan pelukis di Perancis, yang dimulai sekitar tahun 1920an. Gerakan ini menghendaki adanya kebebasan dalam kreativitas artistik, mengungkapkan bawah sadar dengan imajinasi tanpa adanya urutan atau koherensi (seperti di dalam mimpi), membebaskan diri dari alasan yang logis, standar moralitas, konvensi dan norma-norma sosial dan artistik.
Surrealisme dapat diartikan sebagai melebihi realisme, karena surrealisme juga mengagung-agungkan asosiasi yang bebas serta penulisan secara otomatis, fantasi yang tak terkendali serta asosiasi yang bebas mewakili suatu dunia yang lebih realistis daripada kenyataan yang riil. Surrealisme mencoba mengeksploatasi materi-materi di dalam mimpi, keadaan jiwa antara tidur dan jaga, dan menyerahkan penafsirannya kepada pembaca.
H.B. Jassin menyatakan bahwa surrealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan, sebab itu hasil kesusastraan surrealisme jadi sukar untuk menurutkannya, logika hilang, alam benda dan alam pikiran dan angan-angan bercampur baur dalam keseluruhan dan kesewaktuan.
Pembaca cukup kesulitan mengikuti karangan yang bercorak surealisme. Jalan atau aturan tata bahasa seolah-olah diabaikan oleh pengarang karena pikiranna meloncat-loncat dengan cepat. Logika seakan-akan hilang, alam benda dan alam pikiran bercampur aduk menjadi satu.

3.      Aliran Absurdisme
Aliran absurdisme merupakan aliran yang mengemukakan kesusastraan yang menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika. Pengarang aliran ini punya kesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi pada super starnya, nampak kuat kebaruan dan kesegaran kreativitas mereka, bahkan kegeniusan mereka. Umumnya, mereka ini pernah pula sukses sebagai pengarang konvensional, sebagaimana para pelukis abstrak yang sempat meroket dan malang melintang di langit dunia mereka.

4.      Aliran Psikologisme
Aliran Psikologisme merupakan aliran yang lebih mengutamakan penguraian psiko (jiwa). Itu sebabnya pengarang harus mempunyai pengetahuan tentang dasar-dasar jiwa manusia berdasarkan teori-teori para ahli ilmu jiwa umpamanya Freud dan Kunkel, mengetahui teeori serta mendalami jiwa manusia seperti tokoh cerita yang akan ditampilkannya. Harus tahu bagaimana jiwa orang Islam, Kristen, Budha, Hindu, sehubungan dengan agama anutan masing-masing. Harus tahu bagaimana jiwa manusia yang berpaham Marxisme, anarchisme, dan sebagainya. Dengan tak memiliki pengetahuan tersebut, sukarlah bagi pengarang melukiskan jiwa tokoh-tokoh ceritanya setepat mungkin

5.      Aliran Romantisme
Aliran romantisme merupakan aliran yang mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu membuai sukma. Aliran romantic terbagi pula atas aktif romantic dan pasif romantic. Dinamakan aktif romantic apabila lukisannya menimbulkan semangat untuk berjuang, mendorong keinginan untuk maju. Dinamakan pasif romantic, apabila lukisannya berkhayal-khayal, bersedih-sedih, melemahkan semangat perjuangan.
Pengungkapan yang romantis sering dikaitkan dengan percintaan yang asyik dunia muda-mudi yang masih hijau dan belum banyak pengalaman. Tokoh-tokoh dalam fiksi romantik sering digambarkan dengan sangat dikuasai oleh perasaannya dalam merumuskan segala persoalan. Dikisahkan juga tokoh-tokoh yang tak tahan menghadapi hidup yang keras dan kejam. Mereka itu kemudian ada yang lari kegunung atau tempat terpencil lainnya yang dirasakannya jauh dari kekerasan hidup.
Aoh K. Hadimadja menyatakan bahwa salah satu ciri alam romantik tokoh-tokohnya suka membunuh diri, karena terlalu kuat dihinggapi perasaan.

6.       Aliran Eksistensialisme
Aliran Eksistensialisme merupakan aliran yang mementingkan perbuatan termasuk perbuatan kemauan sebagai unsur-unsur yang menentukan. Liaw Yock Fang dalam bukunya “Ikhtisar Kritik Sastra” menyatakan bahwa eksistensialisme adalah aliran filsafat yang kemudian menjadi landasan suatu aliran sastra. Ajaran yang pokok dari eksistensialisme ialah bahwa manusia adalah apa yang diciptakannya sendiri. Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Jika ia menolak memilih atau membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan luar, itu adalah kesalahannya sendiri.
Fuad Hasan dalam bukunya “Berkenalan dengan Eksistensialisme” mencoba memperkenalkan suatu alam pikiran yang dewasa ini dikenal dengan nama eksistensialisme, dengan membutiri pendapat filsuf eksistensialis melalui hasil-hasil karya sastranya. Beberapa pikiran tokoh eksistensialisme itu dikutipkan berikut ini:
a.       Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apapun keputusan yang diambilnya tak pernah ia mantap sempurna (Kiergaard).
b.      Manusia akan terus menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan (Kiergaard).
c.       Dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, maka kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan, apa yang baik, harus kuat ; sebaliknya segala yang lemah adalah buruk dan salah (Niezseche).
d.      Dalam pergaulan antara manusia maka yang harus ditumbuhkan dalam manusia-manusia agung yaitu manusia yang oleh kekuatan tak bisa mengatasi kumpulan manusia-manusia dalam massa (Nietzseche).

7.       Aliran Filsafatisme
Aliran filsafatisme merupakan aliran yang mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati. Sastra filosofis ada yang berkadar humanis, adapula yang religius. Sanjak-sanjak ruhani bisa merupakan bagian dari filsafatisme, di samping ia sendiri merupakan perwujudan spiritualisme. Filsafatisme bisa berangkat dari pikiran, bisa pula diilhami wahyu atau mewujudkan renungan hati nurani. Para pengarang dan penyair yang karya-karyanya kental berkadar filsafat disebut pujangga. Tidak sedikit di antara mereka sekaligus filsuf.

8.      Aliran Ekspresionisme
Aliran ekspresionisme merupakan aliran karya sastra yang menggambarkan ekspresi pandanan seni atau emosi pembuat yang merupakan suatu gerakan yang disusun secara tidak benar. H. Abrams menyatakan bahwa ekspresionisme adalah gerakan dalam sastra dan seni di Jerman yang mencapai puncaknya pada periode 1910 – 1952. Para pelopornya seniman dan pengarang yang dengan bermacam cara menyimpang dari penggambaran yang realistik tentang kehidupan dan dunia. Ke dalam aliran ekspresionisme termasuk juga aliran-aliran: romantic, idealisme, mistisisme, surealisme, simbolik, dan psikologisme Jika realisme melukiskan apa yang tampak, yang nyata, maka seniman ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak dalam jiwanya. Baginya, alam hanyalah alat untuk menyatakan pengertian yang lebih tentang manusia yang hidupKalau seniman impresionistis menyatakan kesannya sesudah dia melihat sesuatu, maka seniman ekspresionistis mengeluarkan rasa yang menyesak padat di dalam kalbunya dengan tak memerlukan rangsangan dari luar. Sifat lukisannya subyektif. Pernyataan jiwa sendiri ini terutama dinyatakan dengan bentuk puisi karena puisi adalah alat utama pujangga sastra untuk melukiskan perasaannya.

9.      Aliran Impersionisme
Aliran impersionisme merupakan aliran yang tidak memperlakukan realitas secara obyektif, tetapi menyajikan kesan-kesan (impressions) dari pengarangnya. Istilah impressionisme ini berasal dari dunia seni lukis pada paruh pertama abad ke 19 di Perancis. Sementara itu H.B. Jassin menyebutkan bahwa suatu lukisan yang impresiomistis kelihatannya seperti belum selesai. Baru hanya skets. Segala sesuatu tidak dilukiskan pikiran-pikiran yang sudah masak dipikirkannya


10.  Aliran Melankolisme
Aliran melankolis merupakan aliran karya sastra dengan karya-karya penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir dan tragis, sarat ratapan dan rintihan. Kisah cinta klasik, drama-drama dalam film India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan termasuk melankholisme.

11.  Aliran Ironisme
Aliran Ironisme merupakan aliran yang mementingkan nada mengejek, kadang terus terang, kadang melalui sindiran-sindiran. Bisa juga, karya itu sebenarnya merupakan kritik tajam terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu.

12.   Aliran Nihilisme
Aliran nihilism merupakan aliran yang mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian. Cerita-cerita yang ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik bisa dimasukkan ke dalam fiksi nihilis.

13.  Aliran Naturalisme
Aliran naturalisme merupaka aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Pornografi, karya mereka jatuh menjadi picisan, bukan tabu bagi mereka. Biasanya, hal ini benar-benar mereka sadari, bahkan mereka pun sempat membanggakan naturalisme ini sebagai gaya mereka.

14.   Aliran Determinisme
Aliran determinisme merupakan aliran yang menggambarkan tokoh-tokoh cerita dikuasai oleh nasibnya, sehingga tokoh tersebut tidak sanggup dan tidak mampu lagi ke luar dari takdir yang telah jatuh pada dirinya.Istilah determinisme berasal dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu ada penyebabnya. Takdir yang dimaksudkan di sini bukanlah takdir dari Tuhan sesuai dengan konsepsi yang berlaku pada agama langit, melainkan takdir yang lebih tepat dikatakan sebagai akibat yang tak dapat dielakkan karena peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya, berupa faktor-faktor biologis, lingkungan dan sosial. H.B. Jassin menyatakan bahwa nasib itu ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, kemiskinan, penyakit, darah keturunan, dalam hubungan sebab akibat. Menurut ilmu keturunan, ayah atau ibu yang jahat akan menurunkan sifat-sifat jahatnya pada anaknya atau cucu-cucunya, biarpun keturunannya itu bermaksud baik, mau memperbaiki dirinya. Apabila si orang tua jahat, maka itu bukan pula karena sudah ditakdirkan Tuhan demikian, tetapi karena keadaan masyarakat yang serba bobrok, orang hidup dalam kemiskinan yang sangat, pembagian harta kekayaan antara manusia tidak adil Determinisme berpendapat bahwa tragedi hidup manusia sudah tercetak dalam kemutlakan, merupakan paksaan nasib yang tak bisa ditembus oleh segenap daya dan ikhtiar sang pelaku. Orang sadar dengan kodratnya, sebagai wong cilik, sebagai hamba sahaya, sebagai sang kurban, sehingga tidak akan banyak menuntut.

15.  Aliran Simbolisme
Aliran simbolisme merupakan aliran reaksi terhadap realisme dan naturalisme yang hanya berpijak pada kenyataan semata. Pengungkapan simbolis tidak secara harfiah, melainkan dengan simbol-simbol. Sebuah simbol berarti sesuatu yang bermakna sesuatu yang lain. Karya simbolik terkadang sukar dipahami dan hanya secara samar-samar ditangkap maknanya. Penyair simbolik bahkan menyukai yang samar-samar itu, oleh karena bagi mereka puisi harus merupakan teka-teki bagi orang biasa, tetapi sebenarnya merupakan musik yang indah bagi yang dapat menghayati dan menikmatinya. Puisi simbolik mencapai keindahannya dengan mengungkapkan objek secara tidak langsung, secara sugestif, dan dengan memperhitungkan efek musiknya yang mengandung makna simbolisme, banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu.

16.  Aliran Idealisme
Aliran dalam kesusastraan yang mengungkapkan hal-hal yang ideal, pengarangnya penuh perasaan dan cita-cita. Mereka berpendapat, sastra punya peran untuk suatu perubahan sosial ke arah yang positif. Sastra bertenden, sebutan untuk karya-karya pengarang idealis, diharapkan mampu mengubah sikap hidup masyarakat atau pembaca dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang statis menjadi dinamis, dari yang malas menjadi rajin, dan seterusnya.

17.  Aliran Heroisme
Aliran yang mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, kecintaan terhadap tanah air dan figur teladan bangsa, serta semangat membela tanah air.

18.   Aliran Religiusme
Aliran Religiusme merupakan aliran yang mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan.

19.  Aliran Transdenstalisme
Aliran transdenstalisme merupakan aliran yang mengetengahkan nilai-nilai transendental, renungan-renungan hidup yang mendalam, yang metafisis (di atas hal-hal yang fisik/nampak). Kalau sastra sufi merupakan katarsisme, maka sastra aliran ini kebanyakan bersifat kontemplatif.

20.  Aliran Komedialisme
Aliran komendialisme merupakan aliran karya sastra yang menunjukan karya yang mampu menghibur penikmatnya.

B.     Ciri-ciri Jenis Aliran Karya Satra
Setiap aliran-aliran karya sastra tentu memiliki ciri khas tersendiri yang mampu menunjukan ciri khas pemilik karya sastra tersebut. Ciri khas masing-masing karya sastra antara lain :
1. Aliran Realisme
    a. Mengemukakan kenyataan secara objektif
     b. Melukiskan dunia kenyataan dan segala-galanya digambarkan seperti apa yang tampak,  tidak kurang tidak lebih
c. Yang diungkapkan para pengarang realis adalah hal-hal yang nyata, yang pernah terjadi, bukan imajinatif belaka oleh pijar imajinasi dan plastis bahasa yang memikat


2. Aliran Surrealisme
a. Mengagungkan kebebasan kreatif dan berimajinasi
b. Antilogika dan antirealitas
c. Keadaan trans atau radikal

3. Aliran Absurdisme
a. Menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika.
b. Pengarang terkesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan
4. Aliran Psikologisme
a. Membahas masalah kejiwaan
b. Suasana jiwa dan konflik batin para pelaku disoroti dengan tajam, detail dan mendalam


5. Aliran Romantisme
a. Mementingkan curahan perasaan yang indah
b. Keinginan untuk kembali ke tengah alam, kembali kepada sifat-sifat yang asli, alam yang belum tersentuh dan terjamah tangan-tangan manusia
c. Sering dikaitkan dengan percintaan yang asyik dunia muda-mudi yang masih hijau dan belum banyak pengalaman

6. Aliran Eksistensialisme
a. Mementingkan perbuatan termasuk perbuatan kemauan sebagai unsur-unsur yang menentukan.
b. Mementingkan unsure dasar manusia seperti irrasionalitas dan ketidaksadaran.


7. Aliran Filsafatisme
a. Mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati
b. Pemikiran mendalam makna hidup yang biasanya berangkat dari penghayatan personal.


8. Aliran Ekspresionisme
a. Mengekspresikan pandangan seni mereka atau emosi secara kuat
b. Tidak memperlakukan realitas secara obyektif,
c. Menyajikan kesan-kesan (impressions) dari pengarangnya

9. Aliran Impersionisme
a. Menyajikan kesan-kesan (impressions) dari pengarangnya
b. Pengarang impresionistis melahirkan kembali kesan atas sesuatu yang dilihatnya.


10. Aliran Melankolis
a. Penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir dan tragis, sarat ratapan dan rintihan
b. Mengkisahkan cinta klasik, drama-drama dalam film India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan termasuk melankholisme.
11. Aliran Ironisme
a. Nada mengejek, kadang terus terang, kadang melalui sindiran-sindiran.
b. Dapat berupa kritik tajam terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu.
12. Aliran Nihilisme
a. Mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian.
b. Bersifat ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik Aliran Naturalisme
13. Aliran Naturalisme
a. Melukiskan keadaan yang sebenarnya
b. Cenderung melukiskan yang buruk, karena ingin memberikan gambaran nyata tentang kebenaran.
c. Cenderung mengkritisi unsur pornografi
14. Aliran Determinisme
a. Cenderung menyoroti nasib seseorang
b. Yang menjadi soal dalam karangan-karangan aliran ini ialah penderitaan seseorang
15. Aliran Simbolisme
a. Mengungkapkan ide-ide dan emosi lebih dengan sugesti-sugesti daripada menggunakan ekspresi langsung, melalui objek-objek, kata-kata dan bunyi
b. Merupakan reaksi terhadap realisme dan naturalisme yang hanya berpijak pada kenyataan semata
c. Banyak menggunakan simbol atau lambang
d. Mengungkapkan pemikiran, emosi, secara samar-samar dan misterius.
e. Banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu.
16. Aliran Idealisme
a. Didasarkan pada ide pengarang semata-mata
b. Seolah-olah pengarang seorang juru ramal yang merasa bahwa ramalannya (fantasinya) pasti atau sekurang-kurangnya mungkin terjadi.
c. Bertujuan ingin mengubah unsur-unsur sosial ke arah yang positif
17. Aliran Heroisme
a. Mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, cinta tanah air atau penggambaran negeri.
b. Menggebu-gebu dan bersemangat
18. Aliran Religiusme
a. Mementingkan nilai keagamaan
b. Mengandung unsure doa atau puji-pujian kepada Tuhan
19. Aliran Transdenstalisme
a. Pengarang selalu mencari dan mendekatkan dirinya kepada Zat Yang Mahatinggi.
b. Didasarkan pada ketuhanan, pada filsafat, dan alam gaib.
20. Aliran Komedialisme
a. Menggambarkan sesuatu yang kocak
b. Bertujuan menghibur penikmat sastra
C. Contoh-Contoh Bentuk Jenis Aliran Karya Sastra
1. Aliran Realisme
a. Novel “Fatimah”, karya Titie Said,
b. Novel“Rindu Ibu adalah Rinduku”, karya Motinggo Boesye,
c. Novel“Bilik-bilik Muhammad”, karya A.R.Baswedan,
d. Novel biografis “Pangeran dari Seberang”, karya N.H.Dini
e. Novel “Dari Hari ke Hari”, karya Mahbub Junaidi,
f. Novel “ Guruku Orang Pesantren”,karya Syaifuddin Zuhri
2. Aliran Surrealisme
a. Sanjak-sanjak Rendra “Khotbah”, “Nyanyian Angsa”, “Mencari Bapa”
b. Cerpen-cerpen Danarto “Godlob”, “Kecubung Pengasihan” “Rintrik”
c. Cerpen“Sanu, Infinita Kembar”, karyaMotenggo Boesye
3. Aliran Absurdisme
a. Drama“Petang di Sebuah Taman” dan “RT 0 RW 0”, karya Iwan Simatupang
b. Cerpen “Tegak Lurus dengan Langit”, karya Iwan Simatupang
c. Novel “Kering”, “ Merahnya Merah”, “Ziarah”, “Koooong”, karya Iwan Simatupang
d. Syair “O Amuk Kapak”, karya Sutarji Calzoum Bachri
e. Syair “Omong Kosong”dan “Sajak Sikat Gigi” Yudhistira Ardi Noegraha
f. Cerpen“Orang-orang Bloomington”, karya Budi Darma
g. Cerpen “ Telegram”, “ Stasiun”, “ Lho”, “ Keok”, “Sobat”, “ Gress”, karya Putu Wijaya
h. Drama “ Anu”, “ Dag Dig Dug”, “ Aduh”, “ Zat” karya Guru Wijaya
i. Drama “Kapai-kapai”, “ Mega-mega”, “Dalam Bayangan Tuhan”, oleh Arifin C. Noer
j. Drama “Bom Waktu”, “Opera Kecoak”, dan naskah saduran “ Perempuan-perempuan Parlemen”, Oleh N. Riantarno
4. Aliran Psikologisme
a. Novel “Belenggu”, karya Armijn Pane
b. Novel “Royan Revolusi” dan “ Kemelut hidup”, karya Ramadhan K.H.
c. Novel “Damai dalam Badai” dan “Cintaku Selalu Padamu”, karya Motenggo Boesye,
d. Novel “Bila Malam Bertambah Malam”, karya Putu Wijaya,
e. Novel-novel N.H. Dini, Titie Said, La Rose, Ike Supomo, Marga T., Ashadi Siregar, dan Ahmad Tohari
5. Aliran Romantisme
a. Puisi-puisi Amir Hamzah “Buah Rindu”, “Karena Kasihmu”, “Memuji Dikau”, “Mengawan”, dan “Do’a”
b. Novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”, “ Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Di dalam Lembah Kehidupan”
c. Sanjak “Nyanyian Ibadah”, karya Korrie Layun Rampan
d. Sanjak “ Romance Perjalanan” karya Kirjomulyo
e. “ Buku Puisi “ nya Hartoyo Andangjaya.
6. Aliran Filsafatisme
Sebagian karya dari R.A. Kartini, R. Ng. Ronggowarsito, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran, Frans Kafka, Iwan Simatupang, Subagio Sastrowardoyo, Putu Wijaya, serta Emha Ainun Najib.
7. Aliran Melankolisme
a. Novel “Di dalam Lembah Kehidupan”,, “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”, “ Di bawah Lindungan Ka’bah”, karya Hamka
b. “Buku Harian Seorang Penganggur” dan cerpen-cerpen serta drama-drama karya Muhammad Ali
c. Puisi-puisi Amir Hamzah dalam “ Buah Rindu “
d. Sanjak-sanjak karya Leon Agusta
e. Lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Benny Panjaitan, A. Riyanto
8. Aliran Ironisme
a. Cerpen “Melaut Benciku”, karya Amal Hamzah,
b. Cerpen“Kisah Sebuah Celana Pendek”, karya Idrus,
c. Cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti
d. Cerpen “Sumpah WTS” dan “Catatan Harian Seorang Koruptor” karya F. Rahardi
9. Aliran Nihilisme
Karangan Achdiat Kartamihardja berjudul “Atheis”
10. Aliran Naturalisme
a. Kumpulan sanjak F. Rahardi, “ Catatan Harian Sang Koruptor” dan “ Sumpah WTS”
b. Sanjak Rendra “ Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”, “ Rick dari Corona”, dan “ Sajak Gadis dan Majikan”
11. Aliran Determinisme
a. Prosa karya Linus Suryadi
b. “ Trilogi Oedipus”, karya Sophokles
c. “Tragedi Sangkuriang”, “Pengakuan Pariyem”, karya Linus Suryadi AG
d. Novel “ Kuterima Penderitaan Ini, Ibu” karya Motenggo Boesye
12. Aliran Simbolisme
a. Fabel-fabel seperti “Serial Kancil”, “Hikayat Kalilah dan Daminah”
b. Cerita “Dengar Keluhan Pohon Mangga”, karya Maria Amin
c. Cerita“Musyawarah Burung”, karya Fariduddin Attar
d. Sanjak “Kucing” karya Sutardji Q.B
e. Cerita “Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa”, karya Y.B. Mangunwijaya
f. Sanjak “Ular dan Kabut”, karya Ayip Rosidi
g. Puisi “Sebuah Lok Hitam”, karya Hartoyo Andangjaya
13. Aliran Idealisme
a. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karya R.A. Kartini
b. “Layar Terkembang”, karya Sutan Takdir Alisjahbana
c. “Kemarau”, karya A.A. Navis,
d. Cerpen “Kadis”, karya Muhammad Diponegoro.
e. Cerpen “Sisifus”, karya Muhammad Fudoli Zaini
14. Aliran Heroisme
a. Puisi “Bende Mataram” karya Muhammad Yamin
b. Puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar
c. Puisi“Monginsidi” karya Subagio Sastrowadojo
d. Puisi“Tanah Tumpah Darah”, karya Sitor Situmorang
e. Puisi “Stasiun Tugu”, karya Taufik Ismail
f. Puisi “Ode bagi Proklamator”, karya Leon Agusta,
g. “Cerita-cerita dari Blora”, karya Pramudya
h. Cerpen-cerpen revolusi Trisno Yuwono “Di Medan Perang“ dan “Laki-laki dan Mesiu”
15. Aliran Religiusme
a. “Gitanyali”, karya Rabindranath Tagore
b. “Rindu Dendam”, karya Y.E. Tatengkeng
c. “Kata Hati”, karya Samadi
d. Sanjak karya Rendra
e. Sajak “Sepatu Tua”, “Balai-balai”, “Sajadah Panjang”, “Aisyah Adinda Kita”, karya Taufik Ismail,
f. “99 untuk Tuhanku”, karya Emha Ainun Najib
g. “Nyanyian Ibadah”, karya Korrie Layun Rampan
h. Cerpen “Di dalam Kereta Api Perjalanan Hidup”, karya Riyono Pratikto
i. Novel “Rindu Ibu adalah Rinduku” dan “Perempuan-perempuan Impian”, karya Motenggo Boesye
j. Novel “Wirid“ karya Ikranegara
k. Novel “Ibuku Sayang“ karya Teguh Esha
16. Aliran Transdenstalisme
a. Sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam “Abad yang Berlari”,
b. “Isyarat“ dan “Suluk Awang-uwung“ karya Kuntowijoyo
c. Cerpen-cerpen Danarto dan Hamid Jabbar, serta Ahmad Tohari, sanjak-sanjak Umbu Langgu Peranggi dan Goenawan Mohamad
d. “Sejuta Milyar Satu“ karya Eka Budianta
17. Aliran Komedialisme
a. Drama “Puntung-puntung Rara Mendut”, karya Y.B. Mangunwijaya
b. Drama “Tuan Kondektur”, “Pinangan”, “Orang-orang Kasar”, karya Anton Chekov
c. Novel“Kejarlah Daku kau Kutangkap”, karya Asrul Sani
d. Novel “Dari Hari ke Hari”, karya Mahbub Junaidi
e. Novel “Arjuna Mencari Cinta” dan “Yudhistira Duda” oleh Yudhistira Ardi Noegraha


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
             Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa setiap karya sastra memiliki aliran yang menunjukan ciri khas karya sastra tersebut. Aliran-aliran karya sastra dapat menunjukan tujuan pembuat karya sastra. Terdapat beberapa aliran-aliran karya sastra antara lain : aliran realisme, aliran surrealisme, aliran absurdisme, aliran psikologisme, aliran romantisme, aliran filsafatisme, aliran melankolisme, aliran ironisme, aliran nihilisme, aliran naturalisme, aliran determinisme, aliran simbolisme, aliran idealisme, aliran heroisme, aliran religiusme, aliran transdenstalisme, dan aliran komedialisme.



B. Saran
            Penulis berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca mengenai aliran-aliran karya sastra. Dan demi penyempurnaan makalah, penulis membuka kritik yang konstruktif dari pembaca


DAFTAR PUSTAKA
Agustinus Suyoto.2010.Diunduh dari http:// agsuyoto.files.wordpress.com pada tanggal 21 Maret 2012
Kenanga.2009.Diunduh dari http://buahrindu.tripod.com/ pada tanggal 21 Maret 2012
No Name.2012.Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia pada tanggal 21 Maret 2012
Riris.2011.Diunduh dari http://danriris.wordpress.com pada tanggal 21 Maret 2012
Zhuldyn.2010.Diunduh dari http://zhuldyn.wordpress.com pada tanggal 21 Maret 2012



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar