Sabtu, 25 Juni 2011

Beberapa Kisah tentang Urgensi Insyaallah


Ada beberapa kisah yang menggambarkan betapa urgen dan dharuri-nya ucapan insya Allah itu bagi seorang mukmin:


1.         Pada suatu hari, nabi Silaiman AS berkata, "Malam ini akan aku setubuhi 60 atau 70 istriku, sehingga semuanya akan hamil dan masing-masingnya nanti akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan menjadi mujahid penunggang kuda fisabilillah." Namun nabi Silaiman AS lupa mengucapkan insya Allah. Memang betul malam itu nabi Sulaiman AS berhasil mensetubuhi 60 atau 70 istrinya, akan tetapi, dari 60 atau 70 istrinya itu, yang hamil CUMA satu, dan saat melahirkan, anak yang dilahirkannya bukanlah manusia yang sempurna fisiknya, ia hanya berupa badan saja, dalam riwayat lain, ia hanya berupa sebelah manusia saja. Rasulullah SAW bersabda, "Kalau saja nabi Sulaiman AS mengucapkan insya Allah, niscaya akan terwujud apa yang diinginkannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
2.         Di tengah puncak pertarungan pemikiran antara Rasulullah SAW dan kafir Quraisy, orang-orang Quraisy itu mengirimkan 2 orang "cendekiawan"nya, sebagai utusan khusus kepada orang-orang Yahudi di Madinah. Tujuannya adalah agar orang-orang Quraisy itu mendapatkan support "ilmu" baru dalam menghadapi Rasulullah SAW. Dua utusan itu adalah An Nadhar bin Al Harits dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith. Orang-orang Yahudi itu membekali 2 orang cendekiawan itu dengan 3 pertanyaan yang mesti mereka ajukan kepada Rasulullah SAW. Tiga pertanyaan itu adalah:
1.         Bagaimana kisah Ash habul Kahfi,
2.         Bagaimana kisah Dzul Qarnain, dan
3.         Apa itu ruh.
Mendapatkan tiga pertanyaan seperti itu Rasulullah SAW bersabda, "Besok saya ceritakan dan saya jawab." Akan tetapi beliau lupa mengucapkan insya Allah.
Karena beliau SAW tidak mengucapkan insya Allah, wahyu yang biasanya turun kepada beliau setiap kali menghadapi masalah, terhenti selama 15 hari, dan pada setiap harinya orang-orang Quraisy selalu datang kepada beliau untuk menagih janji Rasulullah SAW, "Mana ceritanya? Besok... besok... besok..." Begitu kira-kira ucapan orang-orang Quraisy itu.
Rasulullah SAW sangat bersedih atas kejadian itu.
Barulah setelah berlalu 15 hari, Allah SWT menurunkan surat Al Kahfi yang berisi jawaban atas kedua pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan pertanyaan ketiga disebutkan Allah SWT dalam surat Al Isra' (Bani Israil).
Pada penghujung akhir kisah Ash habul Kahfi, Allah SWT berfirman, "Janganlah kami sekali-kali mengatakan, "sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok" kecuali dengan mengatakan insya Allah." (QS. Al Kahfi: 23 - 24)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar